Aku, Kamu, Kita, dan Hidup...

by - 12:50 PM



oleh Nanik Yulianti*

Fabiayyi‘ ảlả irobbikuma tukadzibản, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang kamu dustakan?

Aku hidup. Setiap pagi, aku masih diberi nikmat waktu oleh Tuhan. Menghirup udara, melihat indahnya dunia. Bahkan, pagi ini, Tuhan memberi bonus untuk bumi, ada hujan. Hujan yang membuat kopi semakin dinikmati.


Aku hidup, kamu juga hidup. Kita hidup. Alhamdulillah...  

Sungguh, nikmat Tuhanmu yang mana lagi kah yang kamu dustakan? Bahkan hawa dingin yang menusuk pun, seharusnya mampu membuat kita bersyukur;  kita masih bisa merasa. Rasa sakit yang mungkin kita rasakan, juga seharusnya bisa kita syukuri, rasa sakit itu memberitahu kita, bahwa kita masih hidup.

Konya, sudah lima bulan lebih aku tinggal di kota peristirahatan Maulana Jalaluddin Rumi ini. Di sini, aku bertemu dengan banyak teman baru dari berbagai negeri; Aljazair, Afghanistan, Bosnia, Yaman, Rusia, Kazakistan, Uganda, Masadonia, Cina, Filipina, dll. 

Sayangnya, tidak sedikit dari teman-teman tersebut yang  mengeluhkan banyak hal. Asrama, lingkungan, makanan, dll, membandingkannya dengan tempat lain, milik orang lain. Untukku pribadi, aku sangat beruntung mendapatkan kesempatan ini. Ada begitu banyak orang yang juga menginginkan kesempatan ini. Namun tidak semua keinginan terpenuhi. Dan sekarang, aku di sini. Sungguh, I can’t complain

Ketika ada teman yang mengeluhkan sesuatu di depanku, sebagai respon, tidak jarang aku hanya mengulang-ulang kalimat yang sama: “I try to be grateful, I try to love everything, I try to love everyone, I try to be good”. Bukan berarti aku tidak pernah mengeluh, aku juga mengeluh, aku manusia, tapi aku berusaha, berusaha untuk tidak.  

Di negaraku, dan mungkin di negara-negara lainnya, jangankan memikirkan tentang kesempatan belajar di Konya, ada banyak orang yang bahkan tidak punya cukup makanan, tidak punya tempat tinggal yang layak, tidak punya rasa aman. Karenanya, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Aku tidak ingin menghabiskannya dengan mengeluh. 

Miris, ketika lagi-lagi ada salah satu temanku yang mengeluh, dan lagi-lagi aku merespon dengan kalimat yang hampir sama, dia justru merespon balik dengan: “kenapa kamu harus memikirkan begitu banyak hal? Aku tidak mau memikirkan itu, aku hanya mau memikirkan bagaimana hidupku kedepannya.” Dan lebih miris lagi, ketika aku membanyangkan ada orang lain di luar sana yang juga berpikiran seperti ini. Semoga apa yang aku bayangkan itu salah.

Bagiku, kita hidup untuk suatu tujuan. Bukan hanya hidup, bernafas, dan mati. 

Jangan sampai kita menyia-nyiakan hidup. Bisakah kalian bayangkan betapa Gayatri Walissa, si belia penguasa 14 bahasa, rela melakukan apapun untuk bisa hidup dan meraih mimpi-mimpinya. Dan kini, kita masih hidup, dan mengeluh? 

Aku ingin hidupku, hidup kita, bermanfaat. Aku bukan orang baik; aku emosional, sensitif, tidak sabaran, egois, kadang juga masih mengeluh, sering tidak peka, dll. Tapi, aku ingin jadi orang baik. Ada banyak hal yang tidak aku sukai, tapi aku berusaha untuk menyukainya, apapun, siapapun. Kadang, apa yang tidak kita sukai, justru sesuatu yang baik untuk kita.

Hidup adalah sebuah proses, hidup adalah belajar...
Semoga hidup kita bermanfaat... ^.^

*Mahasiswi S2 di Necmettin Erbakan University, Konya

You May Also Like

2 comments

  1. Ahaa, its pleasant conversation about this paragraph at this place at this weblog, I have read all that, so now me also commenting at this place. vanguard login

    ReplyDelete
  2. You actually make it seem so easy with your presentation but I find this matter to be really something which I think I would never understand. It seems too complex and extremely broad for me. I'm looking forward for your next post, I will try to get the hang of it! facebook log in facebook

    ReplyDelete