Panggilan Cinta Dari Konya

by - 12:06 AM



Oleh Deden Mauli Darajat*

Suatu hari teman saya, Selahattin, mengundang ke rumahnya di Konya, Turki bagian tengah. Ia merupakan teman seasrama di Cebeci. Ia mempromosikan bahwa Konya adalah kota yang damai, berbeda dengan Ankara kota yang ramai. Saya pun menanggapi tawaran itu dengan menjadwalkan untuk berkunjung ke Konya ketika liburan tiba.

Setibanya di Konya, Selahattin mengajak keliling kota kerajaan Seljuk itu. Kami berkunjung ke beberapa museum dan sejumlah masjid kuno yang masih terawat dengan apik. Kami juga menengok makam ulama dan sufi besar asal Konya, Maulana Jalaluddin Rumi. Malamnya, Selahattin dan kakaknya mengajak untuk menonton tarian sufi bernama Sema. Tarian Sema ini adalah tarian yang diciptakan oleh pengikut ajaran Rumi.


Saat penari melakukan tarian Sema itu, tangan kanan direntangkan dan telapak tangan menadah ke atas. Sedangkan tangan kiri direntangkan dan telapak tangan menghadap bawah. Adapun badan penari berputar mengikuti irama yang didendangkan.

Makna tangan kanan menadah adalah menerima rezeki dari sang pencipta, Allah SWT. Sementara makna tangan kiri menghadap bawah adalah membagikan rezeki kepada sesama. Dengan kata lain, saat menerima kita harus juga sekaligus memberi. Inilah nilai cinta yang ditebar oleh Rumi kepada masyarakat luas.

Meski Republik Turki berdiri pada tahun 1923 dan menjadikan sekulerisme sebagai ideologi negara, dimana seluruh simbol yang berkonotasi agama dihapuskan, namun hingga saat ini tetap saja nilai-nilai luhur budaya Islam masih terjaga. Ini karena sejarah mencatat bahwa ada dua kerajaan besar Islam yang berdiri di semenanjung Anatolia ini, yaitu Kerajaan Seljuk dan Kesultanan Turki Usmani. Para raja dan sultan membudayakan budaya Islam pada masyarakat Turki saat itu.

Nilai budaya Islam yang masih melekat pada masyarakat Turki saat ini adalah penerapan sabda Nabi Muhammad yaitu bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya. Bermanfaat bagi yang lainnya adalah dasar dari sebuah cinta. Dengan cinta seseorang lebih mengedepankan memberi ketimbang meminta. Dengan cinta yang kuat dalam diri seseorang ia tidak mengharap pemberian orang lain tetapi ia berpikir bagaimana ia bisa memberi sebanyak mungkin kepada sesamanya.

Suatu hari sepulang dari kampus menuju apartemen dengan menggunakan kereta bawah tanah 'Metro', saya melihat dua orang yang sedang berdebat. Yang satu pelajar sekolah dasar, yang satu mahasiswa. Dalam percakapan itu si mahasiswa ingin memberi uang kepada pelajar SD sebagai pengganti kartu 'Ego' (kartu yang digunakan untuk penggunaan transportasi publik). Namun, si pelajar SD menolak karena ia merasa tidak meminjamkan kartu Ego itu melainkan memberikannya. Meski si mahasiswa memaksa agar si pelajar SD menerima namun ia tetap menolaknya dengan keras.

Saya terkejut dan melakukan perenungan selama perjalanan sore itu. Bagaimana bisa seorang anak kecil yang masih duduk di bangku SD dapat menolak pemberian uang. Bagaimana bisa dua orang pelajar dan mahasiswa berdebat dan berebut untuk berbuat kebaikan. Darimana anak-anak sekolah mendapatkan nilai-nilai keikhlasan dan nilai kemandirian itu.

Saya pun akhirnya mendapatkan jawabannya. Nilai-nilai luhur ini didapatkan dari kelompok sosial terkecil yaitu keluarga. Keluargalah yang mendidik anak-anaknya untuk tetap memegang teguh prinsip-prinsip budaya luhur yang dianut oleh kakek moyang mereka. Akar-akar budaya yang bercorak Islam ini tidak bisa diserabut oleh sistem sekulerisme yang dianut oleh negara Republik Turki. Sekulerisme memang mengubah wajah penampilan masyarakat Turki, tetapi tidak mengubah karakter budaya Islam yang damai dan menyejahterakan umat.

Yang paling dapat dilihat dan dirasakan saat ini adalah bagaimana Pemerintah Turki dan organisasi masyarakat (ormas) di Turki begitu gencar memberikan beasiswa untuk para pelajar di seluruh dunia. Bahkan, tidak sedikit perorangan baik yang berprofesi sebagai pengusaha ataupun pegawai negeri memberikan uang saku kepada para pelajar asing yang ditemui di masjid atau di pertemuan-pertemuan. Ini semua tidak akan hadir jika tidak ada cinta sudah yang melekat dan menjadi karakter bangsa Turki.

*(Alumnus Universitas Ankara Turki/Dosen Komunikasi UIN Jakarta)

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/14/04/03/n3e3gd-panggilan-cinta-dari-konya

You May Also Like

0 comments