SEJARAH IKPM TURKI

by - 1:37 PM

Oleh Deden Mauli Darajat (Dewan Pendiri IKPM Turki)

Setelah hasil kelulusan beasiswa pemerintah Turki diumumkan pada awal Oktober 2009, saudara Christian Kuswibowo (juga Dewan Pendiri IKPM Turki) menelepon saya dan mengabari bahwa kami berdua sebagai penerima beasiswa tersebut. Kami pun kemudian merancang jadwal keberangkatan bersama menuju negeri bekas kesultanan Turki Usmani. Setelah hampir sembilan tahun tak berjumpa, kami pun berangkat bersama ke Turki pada tanggal 26 Oktober 2009.

Di pesawat terbang saat pemberangkatan ke Turki, kami berdua berbincang soal organisasi alumni Gontor. Saya katakan padanya, bahwa kita bisa mendirikan Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) di Turki, jika masih sedikit, kita bergantian setiap tahunnya sebagai ketua dan sekretaris. Perbincangan itu memang sebuah harapan, meski kami pun sedikit ragu karena alumni Gontor hanya kami berdua.



Setibanya kami di Ankara (saya kuliah di Universitas Ankara dan Christian di Universitas Hacettepe di Ankara), bertemu dengan alumni Gontor lainnya, yaitu Gusty Ayuman Mukasyafah. Perjumpaan itu terjadi di kantor KBRI Ankara, saat kami mempersiapkan Indonesia Cultural Day di Tomer Ankara. Rupanya, Gusty belajar di Universitas Seljuk di Konya dan ia hanya bertandang ke Ankara. Pertemuan itu kami gunakan untuk bernostalgia.

Namun, di tahun pertama di Turki kami terlena dengan kegiatan bersama pelajar Indonesia yang kami bangun bersama yaitu Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Turki. Saya sebagai Dewan Penasehat PPI Turki, sementara Christian sebagai Ketua Departemen Komunikasi dan Informasi PPI Turki. Di tahun kedua rupanya kami berdua terlalu asik dengan dunia perkuliahan yang baru. Sebab di tahun pertama kami hanya belajar bahasa Turki dan di tahun kedua kami mulai studi S2.

Barulah di tahun ketiga, 2011-2012, alumni Gontor di Turki bertambah banyak mencapai 11 orang. Beberapa rekan alumni menghubungi saya tentang IKPM yang kita dambakan. Ada terbersit keinginan untuk kumpul bersama, sekadar silaturrahim dan mengobrol bersama. Namun keinginan itu belum juga terwujud. Sampai suatu ketika saya mendapat tugas dari dosen saya untuk pulang ke Indonesia untuk melakukan riset tesis saya.

Saya pun kemudian pulang pada awal Maret 2012. Kebetulan pada tanggal 23-25 Maret 2012, di Cirebon diadakan Silaturrahim Nasional (Silatnas) IKPM. Yang menjadi panitianya adalah IKPM Cirebon. Kesempatan pertemuan dan silaturrahim alumni Gontor ini pun tidak saya sia-siakan. Saya datang ke Cirebon bersama rekan-rekan IKPM Jakarta. Kami berangkat bersama dari Lebak Bulus menggunakan bus rombongan.

Para pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor saat itu datang dan mengisi acara silatnas yang diadakan di asrama haji dan pendopo kesultanan Cirebon. Ribuan alumni datang. Di akhir acara kami bertasafuf alias bersalaman dengan para pimpinan kami. Dan saya banyak berbincang dengan ustadz-ustadz senior, termasuk Ketua Umum IKPM, KH Akrim Mariyat.

Saya katakan kepada Ustadz Akrim (begitu kami memanggil KH Akrim Mariyat), bahwa kami mahasiswa Indonesia yang alumni Gontor mencapai 11 orang. Namun, kami belum memiliki IKPM. “Kalau begitu dirikan saja IKPM cabang Turki dan kirim kabar ke saya melalui e-mail atau telepon,” kata Ustadz Akrim sembari memberikan kartu namanya kepada saya. Mendapat restu dan persetujuan dari ketua umum IKPM itu menjadikan semangat untuk mendirikan IKPM Turki.

Sekembalinya saya ke Turki usai riset di Indonesia pada awal Mei 2012, saya kabari beberapa rekan di Ankara akan pertemuan saya dengan Ustadz Akrim. Responsnya sangat positif. Kemudian saya kirim sms ke semua alumni Gontor di Turki untuk menindaklanjuti pertemuan dengan ketua umum IKPM Turki. Dan kami pun menyepakati untuk kumpul dan musyawarah perdana IKPM Turki di Ankara.

Pada hari Ahad, 17 Juni 2012, kami alumni Gontor yang tersebar di berbagai provinsi dan kota di Turki berkumpul di Ankara. Semangat itu terlihat dari wajah para alumni Gontor di Turki. Sembari bakar ayam dan tajammu’ ala Gontor di Harikalar Parki, kami bersilaturrahim dan bermusyawarah tentang pendirian IKPM Turki sekaligus memilih ketuanya. Saat itu terpilihlah saudara Abdul Aziz sebagai ketua IKPM Turki secara musyawarah mufakat.

Usai bersilaturrahim itu kami kemudian mengikuti acara di wisma KBRI Ankara di daerah Oran. Hampir semua diplomat dan Duta Besar RI untuk Turki hadir pada acara tersebut. Sebelum acara dimulai kami menghadap Ibu Dubes dan Pensosbud KBRI Ankara yang sudah berada di sekitar gedung pertemuan itu. Dalam perbincangan itu kami memberitahukan bahwa IKPM Turki telah berdiri dan kami memohon arahan dan bimbingan Ibu Dubes.

Ibu Dubes, Nahari Agustini, menyampaikan kepada kami bahwa ia turut senang dan memberikan selamat atas berdirinya IKPM Turki. Meski begitu ia juga memberikan nasehatnya kepada kami agar kami tetap fokus untuk belajar meski sibuk dengan organisasi. “Jangan lupa dengan tujuan utama datang ke Turki, yaitu untuk belajar,” nasehat Ibu Dubes.

Kabar tentang silaturrahim perdana dan lahirnya IKPM Turki kami kirim kepada ketua umum IKPM di Gontor, Ponorogo. Ustadz Akrim menyambut baik akan berdirinya IKPM Turki ini. Ia mengucapkan “Selamat dan semoga bermanfaat untuk umat.”

You May Also Like

0 comments